Selasa, Juli 28, 2009

HikMah Dari SeMur,,,....



SiaNg Ni,,,Masak Pa Yach???
HmmmMm,,
Yng GamPang,,SiMpel,,n Yng Lbih pentiNg MuRah (he,,He,,)
Dah Ciang Bgini Lum Masak,,,Wuaduh,,,
Msak Pa YuA,,???
OooOo,,Ya Ya,Ya,,(kyak Lagu GiGi) 
Ndok,,, Ups,,TeLor mksdnya,,
Nah KpikiRan gi Ni,,,
Egg (bhs InggRisNya Nech),, Nya Mau Diapain,,
ha,, Di SemUr ja Ya kK (nanya K'IpEh),,
TerSerah Lah Yng PenTing HarUs Enak (AnsWerNya K'Ipeh),,
Hmm,,,Cma BeLi Ndok KwaRung,,
Mulai Dech,,mracik BumBunya,,Trus SiapIn mua bahannya(Kyak mau TamPil Ja)
Ckk,,Ckkk 
Dah Ciap Muanya,,(GamPang Ko' BumBunya)
Goreng Taluanyo Ndak BisA Kyak Gambar Love,,Gini,,
Hua,,Hua,,Hua,,


TenaNg Yua,,,!!!

Lagi Dmsak,,Hmmm,,KpiKiran Ko' nanTi Kyaknya G enak NiCh,,

Wah,,Kpan Lagi Blajar UmmUl,,

SemaNgat!!!

(PadAhal cuma NyemuR TaLua,,He,,He,,)

G pake sAntan,,g kenTal giTu nampaknya,,
Kasi Pa YacH??
Cba Ja Pake SaOs Sambal EkstRa peDas,,
Wua,,Dah Pake Merica Eh,,Dtambah Saos Ntu,,
manTap!!!
K’Ipeh KacIan Gi SaRiaWan,,(WeLeh2,,MnaTau Jdi Obat),,
Ho…Ho,,


Icip,,Icip,,Dah pas RasaNya,,

Waktu Mkan,,
Kta K’Ipeh ENaaakkkk,,,
But,,
Klo Lapar,,


Weleh2 pDahal Tdi Dah SeNeng Loch,,
HiiiKkss,,, 


Tpi,,EnaK Ko’,,(Jawab K’iPeh Lagi)
Haahaha,,
Cenengnya,,.
@_^

Bsok Masak Yng LebiH Enak Dech,,,
WaKakk,,


Hmmm,,
I tHink,,,
KeSimpUlannya,,,, (kayak PlaJraN Ja)

Pa Kta Akan Mnjadi Lebih Baik n Smanagt Klo Di Puji ????

ATau.


Kta Akan Jadi Lebih Baik n SemaNgat Klo Di Kritik or Di Cela??


Allah Maha Tahu,,,,
Dan Maha MendeNgar Pa yNg di Rasakan Hamba – NYA


PkokNya Klo Mau Kta dkritik Ato DPuJi,,


TeTeP SeMaNgat To be BeTteR Coz Allah SWT,,,

Rabu, Mei 13, 2009

Dakwah dan Optimalisasi Fungsi Masjid


Menegakkan dakwah yang sesuai dengan rasional modern dalam konteks kestabilan ekonomi agaknya diperlukan. Hal ini mengingat banyak kalangan yang secara ekonomi sudah kaya, tidak merasa aman, karena sadar waktu tertentu ia bisa jatuh menjadi miskin kembali. Karena demikian, ia menyisihkan kekayaannya untuk ditanam pada investasi yang aman, yang disayangkan dalam penyisihan kekayaan tersebut tidak mau peduli kepada orang lain yang miskin, sehingga muncullah masyarakat berkelas, kelompok kaya dan kelompok miskin. 

Padahal jika saja dakwah bisa diterima secara rasional persoalan stabilitas ekonomi dan kelas sosial itu menjadi clear atau tidak persoalan. Tetapi tentu saja dakwah harus dijalankan dengan instrumen strategisnya yaitu ajaran persamaan (musytarikah) melalui pendekatan masjid dan pasar. 

Semangat Kebersamaan 
Islam mengajarkan tentang perbelanjaan ekonomi, seperti firman Allah, “Belanjakanlah pendapatan yang kamu peroleh yang diberikan Allah kepada kamu untuk mengurusnya,” (QS al-Hadid [57]: 7). Artinya, dimensi ekonomi atau pendapatan tidaklah semata diurus berdasarkan kemauan dan kehendak sendiri, tetapi terdapat dimensi amanah dari Allah Swt. 

Jika becermin pada sejarah Islam jelas sekali, membangun masyarakat berbasiskan dimensi amanah Allah terlihat ketika Nabi Muhammad hijrah dari Mekah ke Madinah. Kegiatan pertama yang dilakukan Nabi adalah membangun Masjid, tidak membangun pasar, tidak membangun istana. Artinya, dalam kekayaan mestinya menyertakan menegakkan dimensi amanah Allah yang dilakukan dengan cara bersama, bergotong royong oleh seluruh tingkat masyarakat atau ada dimensi persamaan (musytarikah) didalamnya. 

Langkah dakwah yang dilakukan Nabi di atas dapat dijelaskan juga bahwa dakwah itu dimulai dengan unsur kekuasan Allah dengan lambang Masjid. Sedangkan membangun kekuasaan duniawi dengan lambang istana dan kekuasaan ekonomi dengan lambang pasar. 

Fungsi utama masjid adalah pusat dakwah, barulah kemudian menyebarkan fungsi lain seperti ekonomi, pendidikan, kebudayaan bahkan konsep militer. Unsur-unsur duniawi itu berjalan mengikuti fungsi utama kekuasaan Allah, bukan sebaliknya masjid sebagai sub kegiatan ekonomi, politik dan militer. Adapun dimensi ekonomi yang muncul bersama kelas sosial dengan alasan stabilitas ekonomi tadi. Perlu disentuh oleh pemikiran rasional dakwah tersebut di atas meliputi tiga hal. 

Pertama, fungsional kelembagaan yang diterapkan lewat penguyuban (kelompok longgar) masyarakat dengan penerapan perilaku rasional terhadap nilai. Kelompok atau jemaah memang diperlukan sebagaimana dianjurkan ajaran Islam berbentuk persekutuan sosial yang dasar-dasarnya diambil dari ajaran Islam tentang kekuasan Allah terhadap manusia. Fungsi jemaah adalah untuk membangun masyarakat tidak hanya membangun keluarga atau kepentingan pribadi. Kita bisa membayangkan jika nilai masyarakat secara sukarela tentang prinsip invidual harta tanpa batas berubah menjadi orang lain juga punya hak atas harta kita. Atau dengan kata lain, harta punya fungsi sosial. 

Kedua, penerapan konsep ikhwan (persaudaraan) dalam proses ekonomi sebagai lawan dari konsep individualis. Maksudnya adalah kesadaran bahwa tak seorang pun bisa hidup sendirian, secaara aman dan sejahtera, tetapi ia memerlukan orang lain. Karena itu ada rasa persaudaran, perasaan mau berbuat kebajikan. 

Ketiga, ajaran pemerataan ekonomi yang adil untuk kesejahteraan dan cinta kasih yang cerdas. Untuk melaksanakan pemerataan kesejahteraan yang adil kita memerlukan lembaga yang mencerminakan variasi jemaah secara distributif. Variasi itu bisa dengan pengelompokan umur, tingkat pendidikan, serta tempa tinggal. 

Demikianlah, antara lain langkah dakwah yang bisa ditempuh sebagai rasionalitas faktor dalam masyarakat yang berubah. Pada intinya, kalangan yang berpunya tidak usah membuat benteng untuk keamanan harta dan dirinya, karena ia akan dilindungi dan dibentengi oleh masyarkat sendiri. Masyarakat juga menyadari harta itu bukan milik sendiri, tetapi ada hak orang lain di dalamnya. Selanjutnya mengenai pembagian pendapatan masyarakat dilakukan sukarela dengan prinsip keadilan. 

Konsep persaudaraan dalam ekonomi, akan mengubah pula keadaan selama ini yang dirasakan oleh kelompok yang secara ekonomis kaya teeutama di perkotaan. Mereka tidak lagi membangun rumah mewah dengan pagar pengaman yang tinggi serta pengawalan yang ketat, tetapi mereka menyatu sebagai jemaah. 

Masjid Pelengkap 
Di masa lalu masjid berfungsi sebgai pusat kegiatan umat, untuk menggerakkan pelbagai bidang kehidupan manusia. Namun kemudian fungsi masjid bergeser ke istana sebagai pusat birokrasi yang menentukan faktor dalam masyarakat. 

Ini dikesankan oleh Istana Islam di Afrika, yang membangun kemewahan istana melampaui keindahan bangunan masjid. Birokrasi menjadi sebagai wujud dari kelompok jemaah berfungsi dalam mekanisme kerajaaan. Sementara Masjid menjadi digeser oleh penguasa untuk pusat kegiatan ibadah semata. 

Hal demikian dicerminkan juga oleh kerajaan Islam Jawa yang menempatkan masjid terpisah dari bangunan istana. Lihatlah kerajaan Surakarta, Jogykarta, dimana letak masjidnya tidak menyatu dengan istana. Tata kota kerajaan Islam, dengan bangunan serupa itu melambangkan Istana adalah pusat, sedangkan masjid adalah bagian dari unsur Ketuhanan, sehingga fungsi masjid adalah sekunder, atau hanya dimensi legitimasi kekuasaan belaka. 

Konsep ini juga dilaksanakan dalam tata bangunan masa kini, sebagai masjid universitas, masjid pasar, masjid pabrik, yang tidak lain ada perubahan fungsi yang sangat fundamental dari masyarakat modern kita. Masihkah ada tersisa peranan masjid di tengah kesibukan masyarakat modern kini? 

Ini mengesankan dimensi duniawi semakin kuat, dimensi amanah Allah semakin menyusut yang menjadikan masyarakat semakin sekuler. Manusia bekerja terpisah dari dimensi Ketuhanan. Ini terbentuk oleh birokrasi kekuasaan negara dengan pekerja terpusat pada dimensi duniawi. Karena itu perlu menegakkan dakwah dengan fungsi masjid.